Pengikut

Selasa, 17 Desember 2019

Kanjeng Nabi

Duh, Kanjeng Muhammad.

Pagi ini aku sedih sekali.
Kanjeng Muhammad yang kucintai
sedemikian dibenci
sampai ditelanjangi
dengan gambar hewani
dan disumpahserapahi.
Pagi ini aku sedih luarbiasa.
Kanjeng Muhammad yang kucinta
dibela membabi buta
sampai membunuhi manusia,
dengan angkara murka
menyebut nama Tuhannya.
Entah hati, akal, atau apa.
Manusia tapi tidak manusiawi.
Entah benci entah cinta.
Najis bercampur dengan suci.
Benar dan salah kini serupa.
Akal jadi brutal, hati jadi nyali.
Kanjeng Nabi tak seperti itu.
Tidak gambarmu, tidak gambarku.
Dia hidup damai dalam kalbu
meski dihina dari segala penjuru.
Dialah kanjeng Muhammad yang kurindu
dan kubela tanpa membencimu.
Kanjeng Nabi tak seperti itu.


Senin, 16 Desember 2019

"Dekat meski berjauhan"

Apa yang kau rayakan hari ini?

Aku merayakan senyum di hatimu,
yang menggagalkan seluruh ragu.
Senang bukan main kau cemburu.
Bahagia masih bisa merawat rindu.

Apa yang kau syukuri sejak pagi?

Aku bersujud dianugerahi cita-cita,
bertahan bahagia dalam suka duka.
Menengadahkan jiwa ke angkasa,
berterimakasih tiada batas pada-Nya.

Apa yang kau nikmati sepenuh hati?

Aku mengendus relungmu perlahan,
melacak jejak kita saat bersentuhan,
di setiap guratmu ada aroma pelukan,
yang terasa dekat meski berjauhan.